(2018/Budug Asu Malang) - Ngomongin soal sebuah perjalanan mau ke Bukit atau Gunung, bisa dibilang ini adalah kali pertamaku melakukan sebuah pendakian yang terlihat tak seberapa namun setelah dilaui rasanya luar biasa.

Perjalananku ini ditemani oleh Paklikku (Adik dari Ibuku) yang sebenarnya udah dulu sih peristiwanya namun baru kali ini aku buat dokumentasinya dan kala itu apesnya lagi aku gak bisa membuat dokumentasi dalam bentuk foto karena cuaca yang tak mendukung.

Pagi itu bersama dengan dinginnya suhu di Pasuruan yang kala itu emang lagi musim hujan, Aku dan Paklikku ini berangkat kira - kira Pukul 7 - 8 Pagian naik Motornya.

Selama diperjalanan paklikku sempet kebingungan sih dengan Rute yang menuju ke Budug Asu, tapi berkat Aplikasi penunjuk arah Maps akupun berhasil sampai disana kira - kira Siang hari Pukul 11 menuju teriknya panas Matahari.

Dari situlah aku mulai berjalan menuju Bukit yang diberi nama "Budug Asu", setelah memarkirkan Sepedamotor di area parkir yang telah disediakan pastinya.

Setelah itu akupun menuju Rute perjalanan ke Budug Asu tanpa persiapan apa - apa, bahkan aku saja hanya bermodalkan pakaian seadanya dengan sandal jepit sebagai alasnya.

Bermodalkan rasa penasaran dan menyepelekan sebuah Perjalanan, sempet kurasain gimana berjalan dari Start ke Budug Asu yang sebenarnya gak jauh sih jaraknya sekitar 3 Km aja.

Namun mungkin karena aku yang berangkatnya jam 12 Kurang yang bisa dibilang lagi Terik - teriknya Matahari membuat Fisikku cepet terkuras sampai dimana aku harus istirahat untuk kesekian kalinya dan bertemu dengan beberapa Anjing - Anjing disekitarku.

Dari situ aku mikir, Apa karena banyak Anjing disini makanya Bukit ini diberi Nama Budug Asu karena Asu adalah sebuah sebutan lain untuk Anjing dalam Bahasa Jawa.

Hmmmm entahlah...
Mungkin dari pembaca disini ada yang tau alasan kenapa bukit itu diberi nama Budug Asu? Kalian bisa sharing - sharing dengan memberi jawaban di Kolom Komentar dibawah ini yahh!!!.

Kembali lagi ke Perjalanan ke Budug Asu, setelah beberapa menit Istirahat tanpa membawa makanan dan minuman aku berjalan menapakkan kaki dengan keringat yang bercucuran menghiasi wajahku yang penuh komedo dari debu yang terbang terbawa angin.

Setelah beberapa Jam berlalu Akhirnya aku sampai di Pos perisitirahatan tepat dibawah kaki Bukit Budug Asu, disitu ternyata aku harus Bayar tiket untuk bisa Naik ke budug asu sebesar 15 Ribu/Orang.

Dari situ aku yang sudah bermandikan Keringat memutuskan untuk istirahat sejenak sambil memesan makanan berupa Mie dan Minuman, setelah ku amati satu hal ternyata Paklikku itu gak berkeringat sama sekali.

Duhhhh malunya aku 😊, aku yang lebih muda ternyata kalah dengan Orang yang usianya lebih tua dariku meski gak tua - tua amat sihh karena perbedaan usiaku dan Le'ku itu hanya terpaut 6 Tahun saja.

Beberapa menit merasakan nikmatnya beristirahat, sialnya Mendung datang dan bodohnya aku tetap memutuskan naik ke Bukit tersebut yang sudah jelas itu pendakian yang luar biasa karena tanah yang tidak lagi datar melainkan vertikal dengan sudut 45 - 50 Derajat.

Semakin lama menanjak ke atas bukit, baru 1/6 Perjalanan hujan turun dengan derasnya. Alas yang kala itu kugunakan sudah ku lepas mengingat licinnya jalur didepan.

Setelah itu sempet kepikiran untuk turun dan pulang, tapi karena rasa penasaran dan keserakahan akupun bilang "Terus naik semangat" ucapku saat itu ke Lek'ku yang memberi isyarat untuk tetap hati - hati.

Setelah setengah perjalanan baru kurasakan, bahayanya naik ke Bukit khususnya pas lagi hujan ditambah lagi petir yang menyambar menambah rasa takut yang kian mencengkam.

Baru setelah itu aku bilang dengan polosnya "Lek, turun yuk" ucapku dengan keras. Dari situ Paklikku pun menjawabnya dengan mendekatiku perlahan "Jangan kalo turun malah bahaya soalnya licin" ucapnya dengan tegas.

Dari situlah mau gak mau aku harus ke Puncak meskipun dengan kepuncak Bukit bukan berarti itu akan aman, mengingat petir yang terus menyambar dengan hati - hati dan tetap fokus akhirnya aku sampai ke Puncak yang kala itu masih hujan.

Dari sana untungnya masih ada bangunan yang bisa kugunakan untuk berteduh sampai akhirnya hujan Mereda dan View yang tiba - tiba tertutup oleh Kabut yang membuatku gak bisa Mendapatkan Panorama yang ku inginkan.

Disana aku mengira hanya aku dan lek'ku yang masih ada di Puncak Bukit Budug Asu, tapi setelahnya akupun bertemu dengan beberapa Ukhti - Ukhti yang menempuh jalur yang berbeda dari yang kelewati bergegas untuk turun ke Tempat tinggalnya yakni di Surabaya mengingat hari yang sudah menjelang petang.

Dari perjalanan ini ada satu hal yang bisa ku petik sebagai pesan yang berharga "bahwa Melihat saja tidak cukup, maka jangan menyimpulkan suatu hal semena - mena karena yang terlihat belum tentu yang sebenarnya".

Artinya jangan melihat sesuatu itu hanya karena Ohhh itu gak terlalu tinggi, Ohhh gampang, Ohhh pasti aman. Karena kita gak tau apa yang ada didepan menanti kita ya kalo itu benar kalo salah.

Ya kalo kesalahan itu gak membawa petaka, kalo sampai kita terluka gara - gara sikap menyepelekan sehingga merenggut Nyawa.

Kesimpulan dari perjalanan ini adalah Persiapan itu penting, jadi jangan karena suatu hal. Anda melupakan bahwa anda bukan tuhan yang tau masa depan akan jadi seperti apa yang bisa dengan mudah dibolak - balikkan seperti tangan.

Untuk itu tetap utamakan keamanan dan kenyamanan, dengan begitu anda akan menemukan yang namanya nikmat dari sebuah perjalanan.

Demikian untuk diary kali ini, cuman mau ngingetin diary ini masih ada #Part 2, jadi nantikan juga Part selanjutnya hanya di Javasiana.

Post a Comment

Follow by Email